WISATA SEJARAH PABRIK GULA BERBASIS EDUCULTURAL-TOURISM

WISATA SEJARAH PABRIK GULA BERBASIS

EDUCULTURAL-TOURISM

Oleh:

Ria Casmi Arrsa

  1. a.    Menggali akar filosofi gula

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat mengenal gula sebagai salah satu bahan pokok yang diproduksi untuk kemudian dikonsumsi menjadi berbagai hal dalam mencukupi kebutuhan pangan. Karena begitu pentingnya keberadaan gula bagi manusia maka suatu adagium bahasa dalam kehidupan sosial kemasyarakatan menyebutkan bahwa, “dimana ada gula disitu ada semut”. Tentunya makna filosofi yang terkandung didalam pernyataan tersebut tidak semata-mata dimaknai untuk mempersamakan manusia dengan semut akan tetapi dengan karaktersitik produksi gula yang memiliki rasa manis secara filosofis mengajarkan berbagai hal untuk menghasilkan suatu produksi gula yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Adapun nilai-nilai kearifan lokal sebagaimana dimaksud akan nampak terlihat secara nyata pada proses penanaman tebu (sama halnya dengan gula aren) sampai pada masa pasca panen dan pengolahan menjadi produksi gula massal antara lain adalah ajaran tata nilai tentang kesabaran (yaitu mengajarkan untuk menata niat saat menanam mulai dari memilih bahan yang berkualitas, masa tanam, dan metode tanam), kejujuran, keterbukaan, kepercayaan, ketelitian, kehati-hatian, keramahan terhadap lingkungan, kepedulian sosial, kreatifitas, serta manajemen produksi serta distribusi yang kesemuanya merupakan tata nilai kearifan lokal yang harus senantiasa dipupuk untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri pabrik gula yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu keselaran terhadap tata nilai sebagaimana dimaksud sangat relevan untuk dijadikan sebagai landasan budaya kerja sekaligus landasan filosofis bisnis perusahaan (company business philosophy) bagi produsen gula yang oleh karenanya perlu dilakukan transformasi pembaruan terhadap peningkatan budaya kerja yang selama ini sudah ada di PTPN.

 

  1. b.   Potensi pengembangan pabrik gula

Beranjak dari ajaran tata nilai kearifan lokal dalam proses produksi gula sebagaimana dijelaskan diatas nampaknya keberadaan gula, petani, dan pabrik gula memiliki hubungan yang sinergis dan strategis untuk dilakukan pengembangan (diversifikasi) yang tidak hanya berorientasi pada motif ekonomi (keuntungan) semata akan tetapi juga mengajarkan secara massif kepada khalayak tentang pentingnya keberlanjutan industri gula bagi generasi muda sebagai tonggak generasi pembangunan dimasa yang akan datang. Memang haarus diakui bahwa secara ekonomis target realisasi 538 ton pada tahun 2013 harus terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan gula sebagai bahan pokok. Akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah kepedulian institusi untuk menciptakan keselarasan lingkungan dan sosial bagi peningkatan diversifikasi industri gula dalam skala lokal, regional, nasional, bahkan internasional melalu strtaegi pengembangan industri gula yang berlandaskan pada wisata kesejarahan pabrik gula nusantara.

Secara makro di Jawa Timur memiliki beberapa unit pabrik gula yang tersebar di beberapa Kabupaten/Kota antara lain Pabri Gula Watoetoelis Kec. Prambon Sidoarjo, Pabrik Gula Toelangan Kec. Tulangan Sidoarjo, Pabrik Gula Krembong Kec. Krembung Sidoarjo, Pabrik Gula Gempolkrep Kec. Gedek Mojokerto, Pabrik Gula Djombang Baru Kec. Jombang Kab. Jombang, Pabrik Gula Tjoekir Kec. Diwek Jombang, Pabrik Gula Lestari Kec. Patianrowo Kab. Nganjuk, Pabrik Gula Meritjan Kec. Mojoroto Kediri, Pabrik Gula Pesantren Baru Kec. Pesantren Kota Kediri, Pabrik Gula Ngadirejo Kec. Kras Kediri, Pabrik Gula Modjopanggong Kec. Kauman Tulungagung. Keberadaan pabrik-pabrik gula sebagaimana dimaksud memiliki akar kesejarahan yang erat dengan motif penjajahan pada masa Belanda. Dalam perspektif ajaran Soekarno menyatakan bahwa, “Jas Merah” yang memiliki arti janganlah sekali-kali melupakan sejarah.Oleh karena itu dengan pengembangan wisata sejarah pabrik gula di Indonesia menjadi sangat penting dan diharapkan mampu menciptakan suatu sarana transformasi ilmu pengetahuan sekaligus meneropong diorama sejarah perjalanan bangsa sehingga keberadaan pabrik gula masa kini tetap selaras dengan akar kesejarahan dan kearifan lokal budaya bangsa Indonesia yang sarat dengan tata nilai luhur bagi pengembangan industri gula nasional. Iklim kreatifitas melalui pengembangan wisata sejarah pabrik gula dimaksud tentunya akan selaras pula dengan grand desain pengembangan ekonomi kreatif nasional. Menurut Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2025 menyebutkan bahwa pergeseran arah era  ekonomi pertanian, ekonomi industrialisasi, ekonomi informasi, dan ekonomi kreatif merupakan stimulan dalam mengahdapi perubahan dan tantang global. Pengembanagn ekonomi kreatif menitik beratkan pada industri berbasis lapangan usaha kreatif dan budaya. Oleh karena agar tidak tercerabut dari akar tata nilai dan kesejarahan maka pengembangan wisata sejarah pabrik gula harus senatiasa sinergis dengan pengembangan ekonomi kreatif melalui pendekatan pendidikan dan budaya.

 

  1. c.    Model pengembangan Educultural-Tourism

            Model pendekatan pendidikan dan budaya (Educultural) sebagaimana dimaksud ditawarkan sebagai sarana yang efektif untuk mengakomodir pengembangan tata nilai, budaya, dan kesejarahan dalam konteks pembangunan obyek kepariwisataan pabrik gula. Sebagai salah satu aspek pembangunan maka sektor wisata pendidikan akan memberikan peran penting bagi terwujudnya generasi masa depan bangsa yang tercerahkan. Diri sisi pendidikan jelas akan memberikan kontribusi yang sangat penting dan berharga khususnya dalam hal pencerdasan warga negara. Pada konteks tersebut Pengarusutamaan wisata pendidikan merupakan penegasan dan pengutamaan tugas-tugas dan misi suci (mission sacre) pendidikan pada aspek pengembangan sikap (afektif) pada ”sistem nilai budaya” dan ”sikap” atau sikap mental, selain aspek pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik). Pengetahuan (kongnitif) dan Keterampilan (psikomotorik) adalah suatu kemampuan yang penting di miliki oleh generasi muda dalam menyambut masa depan bangsa.

Beranjak dari pengertian diatas maka langkah strategis yang dapat ditempuh sebagai model pengembangan wisata sejarah berbasis pendidikan dan budaya antara lain:

Pertama, Melakukan perbaikan infrastruktur pengembangan wisata sejarah pendidikan dan budaya pabrik gula di daerah. Sebagai contoh mengoptimalkan dokumentasi, ensiklopedia, sarana dan prasarana yang ada serta mempersiapkan pedoman (guidence) yang memberikan dasar-dasar produksi gula pada saat masa tanam sampai pada masa produksi sekaligus menjamin ketersediaan pemandu wisata (guide) yang kesemuanya di era teknologi informasi saat ini stragtegi promosi yang dilakukan dapat melalui berbagai media digital, cetak dan elektronik. Dengan demikian obyek wisata sejara pabrik gula yang berbasis pendidikan dapat dinikmati oleh berbagai komponen masyarakat maupun institusi pendidikan baik pada tingkat dasar, menengah, atas bahkan perguruan tinggi. Studi kasus adalah pengembangan wisata sejarah pabrik gula Madukismo di Kabupaten Bantul Yogyakarta yang di desain memiliki ciri khas pabrik gula dengan potensi budaya yang diwariskan turun temurun dari Keraton yang  didukung dengan potensi kerata lori agrowisata.

Demikian halnya potensi wisata yang telah dikembangkan oleh pabrik gula pangka maupun pabrik gula gondang baru PTPN IX yang menyediakan fasilitas wisata berupa 1) kunjungan kebun tebu dan Pabrik, 2) Museum dan Perpustakaan, 3) Auditorium, 4) Alat Transportasi Pengangkut Tebu Tempo Dulu, Coffee Shop. Lebih lanjut dengan adanya fasilitas yang sudah ada nampaknya perlu untuk dikembangkan suatu kawasan sentra strategis obyek wisata industri gula dengan memasrkan berbagai produk gula yang murah dan berkualitas. Dengan demikian diharapkan daya tarik obyek wisata sejarah pabrik gula akan mampu memikat kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Kedua, Bahwa berdasarkan ketentuan UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menyebutukan bahwa Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pengusaha. Oleh karena itu pengembangan wisata sejarah pabrik gula berbasis pada pendidikan dan budaya harus diarahkan pada upaya terwujudnya sinergitas dan koordinasi dengan Pemerintah, Pemerintah daerah dari sisi kebijakan dan anggaran (budget), maupun dunia usaha dari sisi investasi sehingga tujuan daripada model pengembangan wisata sejarah pabrik gula berbasis pada pendidikan dan budaya akan mampu untuk 1) meningkatkan pertumbuhan ekonomi; 2) meningkatkan kesejahteraan rakyat; 3)  menghapus kemiskinan; 4) mengatasi pengangguran; 5) melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya;  6) memajukan kebudayaan; 7) mengangkat citra bangsa; 8) memupuk rasa cinta tanah air; 9) memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa; dan 10) mempererat persahabatan antarbangsa sebagaimana amanat kebijakan dan regulasi nasional di bidang kepariwisataan.

Ketiga, dalam usaha pengembangan wisata sejarah pabrik gula maka di butuhkan komitmen dan keseriusan untuk membuka diri melalui strategi manajemen keterbukaan (open management) sehingga menjadikan kawasan wisata pabrik gula sebagai zona riset yang dapat dimanfaatakan oleh berbagai kalangan antara lain perguruan tinggi maupun lembaga riset untuk kepentingan penelitian lintas displin ilmu pengetahuan yang pada prinsipinya hasil dari pada penelitian dimaksud diarahkan untuk dapat dimanfaatkan dan berkontribusi bagi pengembangan iklim ekonomi yang kondusif dengan berbagai model temuan, kreatifitas dan rekayasa pengembangan guna menopang peningkatan produktifitas dan kemajuan wisata sejarah berbasis pendidikan dan budaya.

Berdasarkan penjelasan diatas maka tiga pilar strategi pengembangan dan pemasaran terhadap obyek wisata pabrik gula yang berbasis pada pendidikan dan budaya diharapakan mampu memperluas pangsa pasar produksi gula yang tidak hanya diukur dari sisi kuantitas semata akan tetapi sebagai institusi keberadaan pabrik gula juga memiliki kepekaan untuk menumbuh kembangkan tata nilai warisan kearifan lokal (local wisdom) sehingga kedepan wisata sejarah pabrik gula berbasis pendidikan dan budaya akan mampu dikembangkan lebih lanjut menjadi warisan budaya menuju ke arah kearifan global (global wisdom).

Ria Casmi Arrsa (Penulis merupakan Peneliti dan Analis Kebijakan Publik Pada Pusat Pengembangan Otonomi Daerah dan Demokrasi (PP-OTODA) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang)

WISATA SEJARAH PABRIK GULA BERBASIS EDUCULTURAL TOURISM

  1. Wahhh idenya kreatif

    • siska
    • January 21st, 2013

    Indonesia kaya akan potensi industri gula. Oleh krn itu menaRik untuk mengembangkan dan memasarkan industringula melaui wisata berbasis edukasi dan budaya seperti yg dikembangkan di berbgai negara

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: