Survei Pilkada Melenceng, Ini Jawaban LSI

Otonominews via VIVAnews

Lembaga survei mendapat kritik keras atas tidak tepatnya prediksi yang mereka buat terkait dengan Pilkada DKI. Sebelumnya, hampir seluruh hasil survei mengunggulkan pasangan incumbent Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Namun kenyataannya, prediksi itu meleset, justru dalam penghitungan cepat (quick count), pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, menang dalam putaran pertama.

“Dalam memprediksi seberapa kuat dan lemah seorang calon untuk terpilih dalam Pilkada atau Pilpres, akan lebih baik dan cerdas mempercayai survei ketimbang ‘feeling‘ dan ‘intuisi‘ politik. Feeling dan intuisi itu lebih banyak melesetnya ketimbang survei yang jelas metodologi dan pertanggungjawaban akademisnya,” kata Direktur Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Toto Izul Fatah kepada VIVAnews. Toto mengemukakan, ketidaksamaan hasil survei sebelum pemilihan dengan hasil quick count setelah pemilihan pada Pilkada DKI Jakarta pada 11 Juli 2012 lalu, bukan karena kesalahan metodologi. Dia mengatakan, seluruh lembaga survei sudah menggunakan metodologinya secara benar.

“Apa yang kami potret itu opini publik yang muncul pada rata-rata H-14 sampai H-7 ketika survei dilakukan. Biasanya tak ada perubahan signifikan setelah survei dilakukan (H-7) dengan hari pelaksanaan Pilkada,” ujarnya.

Toto mengakui, untuk kasus Pilkada DKI Jakarta memang agak khusus. Hal itu, antara lain, karena ramainya negatif campaign atas Foke yang dilakukan secara kreatif dengan dukungan kelas menengah melalui social media, khususnya lewat Twiiter, Facebook dan pesan BBM.

Sementara di sisi lain, ada kampanye simpatik atas Jokowi di tujuh hari berturut-turut sampai hari pencoblosan. Juga terjadi mobilisasi dukungan yang  menimbulkan migrasi suara.

“Kondisi ini tak lagi terpantau karena tak lagi melakukan survei setelah H-7,” terangnya.

Toto menambahkan, hasil quick count lembaga-lembaga survei di hari pencoblosan, dapat memastikan bahwa hasilnya akan sama dengan hasil KPUD nanti. Hal itu menandakan bahwa metodologi lembaga survei masih bisa diandalkan karena survei dan hitung cepat mengandalkan metodologi sampel yang hampir sama.

Meski demikian, Toto menyebut bahwa tidak semua lembaga survei punya kualitas yang sama. Untuk mengetahui lembaga yang kredible dan tidak, cukup melihat track record-nya. Menurutnya, lembaga yang punya track record panjang tentang akurasinya bisa dipegang karena mustahil lembaga itu mau ‘bunuh diri’ mempublikasikan data yang salah.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: