Minimarket Menjamur, Pasar Tradisional Terancam Bangkrut

otonominews via pandawalimatour.com

MINIMARKET berjaringan di Kabupaten Buleleng tampaknya terus bertambah dan tak ada upaya dari pemerintah untuk menyetopnya. Akibatnya, pedagang di pasar tradisional pun menjerit karena pelanggan-pelanggan mereka kini lebih suka masuk minimarket ketimbang masuk pasar.Sejumlah pedagang buah dan kue kering di Pasar Buleleng mengakui jumlah pembeli mereka yang sebagian besar berasal dari daerah Liligundi, Paket Agung, Beratan, Sukasada dan sekitarnya, kini terus menurun. Pasalnya, pembeli itu kini lebih suka masuk ke minimarket yang lokasinya hanya beberapa meter dari lokasi pasar.

Barang-barang yang dijual di minimarket itu relatif sama dengan pedagang tradisional di Pasar Buleleng, yakni kue, minuman, dan buah-buahan. ”Sudah sekitar setahun jumlah pembeli menurun. Padahal, harga barang kami lebih murah,” kata seorang pedagang.
Selain di sekitar Pasar Buleleng, puluhan minimarket lain juga banyak yang dibangun dengan jarak yang sangat dekat dengan pasar tradisional. Seperti di dekat Pasar Banyuasri dan dekat Pasar Kalibukbuk, Lovina. Yang lebih disayangkan, banyak minimarket kini sudah masuk ke wilayah permukiman di desa-desa pinggiran kota. Sehingga warga desa kini tak perlu lagi ke pasar tradisional untuk mendapatkan barang kebutuhan mereka.
Satu minimarket berjaringan yang baru saja dibuka berlokasi di Jalan Singaraja-Seririt, tepatnya di Desa Pemaron Kecamatan Buleleng. Langkah warga seperti sudah dicegat di depan rumah sehingga lama-kelamaan pasar tradisional menjadi sepi dan pada akhirnya bangkrut.
Padahal, dulu, Pemkab Buleleng sempat mengeluarkan statemen bahwa pemerintah akan membatasi izin minimarket di Kota Singaraja. Jumlah minimarket akan dibatasi dengan hanya lima buah. Namun belakangan, jumlahnya terus menjamur seakan tak ada yang mempedulikannya.
Sejumlah anggota DPRD Buleleng menilai kondisi ini terkesan dibiarkan oleh pemerintah daerah. Wakil rakyat mendesak pemerintah segara mengambil langkah untuk mengkaji kembali pemberian izin pembukaan minimarket terutama di wilayah perkotaan. Bukan saja membatasi izin, namun pemerintah harus menata jarak antara minimarket yang akan dibuka dengan areal pasar-pasar tradisional.
”Ini masalah yang mestinya ditangani serius oleh pemerintah. Tetapi kami lihat ini dibiarkan terus sehingga semakin banyak lagi minimarket di perkotaan dan dampaknya pasar-pasar tradisional itu akan tutup karena warga banyak yang berbelanja di minimarket,” ujar anggota Komisi C DPRD Buleleng, H. Mulyadi Putra.
Mulyadi menambahkan sebaiknya pemerintah membuat peraturan daerah (perda) yang mengatur pendirian minimarket. Dari produk hukum yang dibuat itu diatur pemberian izin pembukaan minimarket termasuk melarang kawasan-kawasan yang tidak bisa dibuka minimarket. ”Saya kira perda layak dibuat, sehingga masalah ini akan tertangani secepatnya dan pasar tradisional akan terlindungi dan bisa bertahan di tengah tren berbelanja di pasar modern,” jelas politisi dari PPP ini.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: